Highlight
- Soal Pemahaman Bacaan dan Menulis (PBM) menguji ketelitian, logika, dan kemampuan memahami maksud tersembunyi dalam teks. Tanpa strategi yang tepat, banyak siswa kehilangan poin meski sebenarnya paham isi bacaan.
- Kunci sukses PBM ada pada kemampuan mengenali ide utama, kata kunci, serta pola soal. Dengan latihan yang terarah, teks panjang bukan lagi ancaman, melainkan peluang untuk mendongkrak skor.
- Pembahasan soal ala Latis Supercamp Alumni UI tidak hanya memberikan jawaban benar, tetapi juga mengupas proses berpikir logis di balik setiap solusi agar pemahaman semakin kuat.
- Untuk benar-benar siap menghadapi UTBK SNBT, dibutuhkan latihan lebih intensif, simulasi terstruktur, dan pendampingan profesional. Jangan berhenti di sini—maksimalkan persiapanmu bersama Latis Supercamp Alumni UI!
Halo Sahabat Latis Supercamp!
Pemahaman Bacaan dan Menulis (PBM) kerap membuat banyak peserta UTBK SNBT merasa tertekan. Teks yang panjang, waktu yang terbatas, serta pilihan jawaban yang terlihat mirip sering kali membuat siswa ragu menentukan jawaban terbaik. Tidak sedikit yang sebenarnya paham isi bacaan, tetapi kehilangan poin karena kurang teliti membaca maksud soal atau salah menangkap ide utama.
Padahal, jika didekati dengan strategi yang tepat, PBM justru bisa menjadi sumber skor yang sangat menjanjikan. Kuncinya bukan sekadar membaca cepat, melainkan memahami pola soal, mengenali kata kunci, serta melatih kemampuan menyimpulkan gagasan secara logis. Dengan latihan yang konsisten dan pendampingan yang terarah, kamu akan terbiasa berpikir sistematis dan lebih percaya diri saat menghadapi teks panjang sekalipun.
Melalui artikel ini, kamu akan menemukan contoh soal PBM lengkap dengan pembahasan mendalam ala Latis Supercamp Alumni UI. Tidak hanya sekadar melihat kunci jawaban, kamu diajak memahami proses berpikir di balik setiap solusi. Yuk, simak dan pahami soal PBM UTBK SNBT di bawah ini!
Perhatikan teks berikut untuk soal nomor 1—10
Chairil Anwar terkenal sebagai penyair yang hidup dan matinya tidak dapat dilepaskan dari puisi Indonesia modern sehingga ia menjadi pelopor Angkatan 45 dalam sastra Indonesia. Ia lahir pada tanggal 22 Juli 1922 di Medan, Sumatera Utara. Chairil Anwar mengenyam pendidikan dasarnya di sekolah dasar pada masa Belanda, yaitu Neutrale Hollands Inlandsche School (HIS) di Medan. Setelah tamat dari HIS, Chairil Anwar meneruskan pendidikannya ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Medan, sebuah sekolah setingkat dengan SLTP. Ia tidak menamatkan MULO Medan itu. Ia hanya sampai kelas satu. Selanjutnya, ia pindah ke Jakarta dan masuk kembali ke MULO di Jakarta. Walaupun Chairil masih bersekolah di MULO, buku-buku untuk tingkat HBS (Hogere Burger School) sudah dibacanya.
Di Jakarta, Chairil Anwar hanya dapat mengikuti MULO sampai kelas dua. Setelah itu, Chairil Anwar belajar sendiri (otodidak). Dia giat belajar bahasa Belanda, bahasa Inggris, dan bahasa Jerman, sehingga akhirnya ia dapat membaca dan mempelajari karya sastra dunia yang ditulis dalam bahasa-bahasa asing itu. Chairil Anwar hanya seorang penyair dan hidup dengan menyair. Chairil mendapat uang dari hasil menulis sajak. Pada bulan Januari—Maret 1948, ia bekerja menjadi redaktur majalah Gema Suasana. Namun, karena merasa tidak puas, ia mengundurkan diri dari pekerjaan itu. Ia bekerja sebagai redaktur di majalah Siasat sebagai pengasuh rubrik kebudayaan “Gelanggang”bersama dengan Ida Nasution, Asrul Sani, dan Rivai Apin. Ia merencanakan untuk mendirikan sebuah majalah kebudayaan yang bernama “Air Pasang” dan “Arena”. Namun, rencana itu belum juga terwujud hingga Chairil Anwar meninggal dunia. Orang tua Chairil Anwar berasal dari Payakumbuh. Ayahnya bernama Teoloes bin Haji Manan yang bekerja sebagai ambtenaar pada zaman Belanda dan menjadi Bupati Rengat pada zaman Republik tahun 1948. Hamka pernah bertemu dengan ayah Chairil dan Hamka mengatakan bahwa Chairil, anak lelaki satu-satunya itu, telah menjadi orang besar sebagai penyair. Ketika mendengar hal itu, ayah Chairil menitikkan air mata karena bangga dan terharu. Pada 5 Januari 1949 ayah Chairil meninggal karena ditembak Belanda ketika Aksi Polisionil Belanda terjadi di Rengat. Tiga bulan kemudian, 28 April 1949 Chairil Anwar meninggal di Jakarta.
Pada tanggal 28 April 1949 Chairil Anwar meninggal dunia pukul 14:30. Jenazahnya dimakamkan pada tanggal 29 April 1949 di Pemakaman Umum Karet, Jakarta Selatan dengan memeroleh perhatian besar dari masyarakat. Pengalaman menulis Chairil Anwar dimulai pada tahun 1942 ketika ia mencipta sebuah sajak yang berjudul “Nisan”. Ia menulis sampai dengan akhir hayatnya, yaitu pada tahun 1949. Pada tahun 1949 itu, ia menghasilkan enam buah sajak, yaitu “Mirat Muda”, “Chairil Muda”, &”Buat Nyonya N”, “Aku Berkisar Antara Mereka”, “Yang Terhempas dan Yang Luput”, “Derai-Derai Cemara”, dan “Aku Berada Kembali”. Kesungguhan Chairil untuk menciptkan karya tersebut didukung oleh kesungguhannya mempelajari sajak-sajak para pujangga terkenal dari luar negeri. Ia menyalin sajak R.M. Rilke (Jerman), H. Marsman (Belanda), E. du Perron (Belanda), dan J. Slauerhoff (Belanda), serta Nietzsche (Jerman). Ia menerjemahkan sajak De Laatste Dag Der Hollanders op Jawa karya Multatuli dengan judul “Hari Akhir Olanda di Jawa”.
Chairil juga menerjemahkan sajak The Raid karya John Steinbeck (Amerika) dengan judul “Kena Gempur”. Sajak yang berjudul Le Retour de l’enfant prodigue karya Andre’ Gide (Perancis) diterjemahkannya dengan judul “Pulanglah Dia Si Anak Hilang”. Selain itu, Chairil Anwar juga telah menerjemahkan karya John Cornford (Inggris), Hsu Chih Mo (Cina), Conrad Aiken (Amerika), dan W.H. Auden (Amerika). Selama enam setengah tahun sejak tahun 1942—1949, Charil Anwar telah menghasilkan 71 buah sajak asli, dua buah sajak saduran, 10 sajak terjemahan, enam prosa asli, dan empat prosa terjemahan. Menurut pengakuan Chairil Anwar sendiri, menulis sebuah sajak tidak dapat sekali jadi. Setiap kata yang ditulis harus dikorek dengan sedalam-dalamnya. Semua kata harus dipertimbangkan, dipilih, dihapus, dan kadang-kadang dibuang yang kemudian dikumpulkan lagi dengan wajah baru. Tentang peranan Chairil Anwar dalam perkembangan sastra Indonesia sudah banyak orang mengupas dan mengemukakannya. Peranan Chairil Anwar itu adalah sebagai pelopor Angkatan ’45 yang berjasa dalam melakukan pembaharuan puisi Indonesia. Dalam kedudukan dan peranannya itu, Chairil iagung-agungkan dan dipuji-puji orang. Pembaharuan Chairil Anwar dijelaskan oleh H.B. Jassin dalam berbagai kesempatan. Dalam bukunya yang berjudul Pengarang Indonesia dan Dunianya (1983) yang diterbitkan oleh PT Gramedia, H.B. Jassin mengatakan bahwa apabila membaca sajak-sajak Chairil Anwar, selalu kita merasa terpesona dan tidak bosan-bosannya. Setiap kali kita membacanya, pikiran kita mengembara jauh dan selalu kita menemukan sesuatu yang baru, atau sesuatu yang sebelumnya tidak kita lihat, atau kita lihat dengan mata yang lain dari sudut yang lain.
A. Teeuw mengatakan bahwa dalam karya Chairil Anwar terdapat keanekaragaman—suatu ciri yang khusus bagi suatu kepribadian yang sedang dalam pembentukan—untuk menempuh kehidupan dengan penuh gairah. Chairil Anwar tetap merupakan tenaga hidup dan nyata dalam pembangunan Indonesia. Melalui kepribadian dan puisinya, ia memberikan sumbangan terhadap pembentukan Indonesia baru dan memberikan arah kepadanya. Ia terutama mempertahankan beberapa cita-cita mulia tentang bahasa Indonesia dalam bentuk hubungan yang paling terdalam, yaitu puisi. Komentar A. Teeuw ini disampaikannya dalam bukunya yang berjudul Sastra Baru Indonesia 1 (1978) yang diterbitkan oleh Penerbit Nusa Indah, Flores. Sajak-sajaknya telah banyak diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing. Paling awal Dolf Verspoor menerjemahkan sejumlah sajak Chairil Anwar ke dalam bahasa Belanda. Nyonya Dickinson menerjemahkan sajak Chairil ke dalam bahasa Inggris. Burton Raffel dan Nurdin Salam menerjemahkan sajak Chairil ke dalam bahasa Inggris. L.C. Damais menerjemahkan 15 buah sajak Chairil Anwar ke dalam bahasa Prancis. Dalam perjalanan karirnya sebagai penyair itu, Chairil Anwar tidak sedikit mendapat tantangan. Ia mendapat tantangan dari Sutan Takdir Alisjahbana ketika Sutan Takdir Alisjahbana menolak penerbitan sajak Chairil di Pujangga Baru. Namun, Sutan Takdir Alisjahbana akhirnya mengakui kebesaran Chairil dan menyebut sajak-sajak Chairil sebagai “sambal pedas” yang “menikmatkan”. Yang hendak disingkirkannya adalah pengarang kelompok Lekra pada paruh kedua dasawarsa 1960-an; kelompok Lekra itu hujat Chairil Anwar sebagai penyebar sikap individualis dan wawasan humanisme universal yang menganggap menghambat revolusi dari visi kaum komunis.
Selain itu, ada juga kelompok yang menyebut Chairil Anwar sebagai plagiator atas beberapa karya penyair Amerika, Belanda, dan Cina. Ihwal tindak plagiarisme yang dilakukan oleh Chairil pertama kali dikemukakan oleh Kumayas dan dijadikan bahan kajian tesis oleh Surakhmad pada Fakultas Sastra UGM tahun 1960-an. Kajian Surakhmad menepis tuduhan plagiarisme atas Chairil. Pamusuk Eneste (1988) mengatakan bahwa STA, Klara Akustia, Bakri Siregar, dan lain-lain, tidak bisa membendung kebebasan Chairil Anwar. Sejarah telah membuktikan bahwa Chairil Anwar adalah penyair besar Indonesia. Mengenai hal ini sebenarnya Chairil telah pernah meramalkannya. Chairil pernah berkata, “Nantilah kalau aku sudah meninggal, mereka akan mengerti. Mereka akan memujaku. Mereka akan mematungkan diriku.”Sajak-sajak Chairil Anwar itu terkumpul, antara lain (1) Deru Campur Debu (1949) yang diterbitkan oleh Penerbit Pembangunan, Opbuow, Jakarta, (2) Kerikil Tajam dan Yang Terempas dan Yang Putus (1949) yang diterbitkan oleh Pustaka Rakyat, Jakarta, dan (3) Aku Ini Binatang Jalang (1986) yang diterbitkan oleh PT Gramedia, Jakarta.
Sumber: https://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Chairil_Anwar dengan modifikasi
1. Penulisan kata yang salah terdapat pada paragraf…. kalimat ….
(A) Paragraf (2) kalimat (2)
(B) Paragraf (3) kalimat (3)
(C) Paragraf (4) kalimat (4)
(D) Paragraf (1) kalimat (10)
(E) Paragraf (1) kalimat (7)
2. Kalimat Menurut pengakuan Chairil Anwar sendiri, menulis sebuah sajak tidak dapat sekali jadi. Setiap kata yang ditulis harus dikorek dengan sedalam-dalamnya pada kalimat (13) perlu disempurnakan dengan cara ….
(A) Menghilangkan kata sendiri dan tanda koma (,) dan mengganti frasa dikorek sedalam-dalamnya menjadi frasa diidentifikasi secara holistik
(B) Menghilangkan kata sendiri dan mengganti frasa dikorek sedalam-dalamnya menjadi frasa dianalisa satu per satu
(C) Menghilangkan tanda koma (,) dan mengganti frasa dikorek sedalam-dalamnya menjadi frasa dikaji
(D) Menghilangkan kata sendiri dan tanda koma (,)
(E) Menambahkan frasa pada karya sastra setelah frasa dikorek sedalam-dalamnya
baca juga: les privat matematika
3. Kata yang harus dihilangkan pada paragraf empat kalimat dua adalah….
(A) Dikemukakan
(B) Pertama kali dan tindak
(C) Ihwal dan tindak
(D) Oleh dan dikemukakan
(E) Yang
4. kalimat empat pada paragraf tiga dapat diperbaiki menjadi….
(A) Ia terutama mempertahankan beberapa cita-cita mulia tentang bahasa Indonesia dalam bentuk hubungan yang terdalam, yakni puisi
(B) Terutama, ia mempertahankan cita-cita mulia tentang bahasa Indonesia dalam bentuk hubungan terdalam pada puisi
(C) Ia mempertahankan beberapa cita-cita mulia tentang bahasa Indonesia dalam bentuk hubungan paling terdalam, yaitu puisi
(D) Terutama, ia mempertahankan beberapa cita-cita mulia tentang bahasa Indonesia dalam bentuk hubungan yang paling terdalam pada puisi
(E) Ia terutama mempertahankan beberapa cita-cita mulia tentang bahasa Indonesia dalam bentuk hubungan yang paling terdalam dengan puisi
5. Pembentukan afiks yang salah terletak pada paragraf….kalimat….
6. Kalimat manakah yang paling tepat sebagai kalimat inti nomor (16)?
(A Peranan Chairil Anwar adalah sebagai pelopor Angkatan ’45 yang berjasa untuk melakukan pembaharuan
(B) Peranan Chairil Anwar adalah sebagai pelopor Angkatan ’45
(C) Peranan Chairil Anwar adalah sebagai pelopor Angkatan ’45 yang berjasa dalam melakukan pembaharuan puisi Indonesia
(D Chairil Anwar itu adalah sebagai pelopor Angkatan ’45 yang berjasa dalam melakukan pembaharuan puisi Indonesia
(E) Chairil Anwar berperan sebagai pelopor Angkatan ’45
7. Kalimat manakah yang paling efektif dan pembetulan kebahasaannya sebagai hasil penggabungan kalimat terakhir paragraf dua dan kalimat pertama paragraf tiga adalah….
(A) Setiap kali kita membacanya, pikiran kita mengembara jauh dan selalu kita menemukan sesuatu yang baru atau sesuatu yang sebelumnya tidak kita lihat dan kita lihat dengan mata yang lain dari sudut yang lain. Berdasarkan hal tersebut, A. Teeuw mengatakan bahwa dalam karya Chairil Anwar terdapat keanekaragaman—suatu ciri yang khusus bagi suatu kepribadian yang sedang dalam pembentukan—untuk menempuh kehidupan dengan penuh gairah
(B) Setiap kali kita membacanya, pikiran kita mengembara jauh dan kita menemukan sesuatu yang baru atau sesuatu yang sebelumnya tidak kita lihat. Di sisi lain, A. Teeuw mengatakan bahwa dalam karya Chairil Anwar terdapat keanekaragaman—suatu ciri yang khusus bagi suatu kepribadian yang sedang dalam pembentukan—untuk menempuh kehidupan dengan penuh gairah
(C) Setiap kali membacanya, pikiran kita akan mengembara jauh sehingga menemukan sesuatu yang baru atau sesuatu tidak terlihat dengan mata yang lain dari perspektif berbeda. Hal ini memiliki pemaknaan serupa dengan A. Teeuw bahwa dalam karya Chairil Anwar terdapat keanekaragaman—suatu ciri yang khusus bagi suatu kepribadian dalam pembentukan—untuk menempuh kehidupan yang penuh gairah
(D) Setiap kali kita membacanya, pikiran mengembara jauh sehingga menemukan sesuatu yang baru atau sesuatu yang sebelumnya tidak kita lihat atau kita lihat dengan mata yang lain dari sudut yang lain. Oleh karena itu, A. Teeuw mengatakan bahwa dalam karya Chairil Anwar terdapat keanekaragaman—suatu ciri yang khusus bagi suatu kepribadian yang sedang dalam pembentukan—untuk menempuh kehidupan dengan penuh gairah
baca juga: les privat bekasi
8. Penggunaan tanda baca yang tidak tepat terletak pada kalimat nomor….
(A) Paragraf tiga kalimat delapan
(B) Paragraf empat kalimat empat
(C) Paragraf tiga kalimat satu
(D) Paragraf dua kalimat satu
(E) Paragraf satu kalimat tiga
9. Penggunaan kata tidak baku terletak pada kata….
(A) Saduran pada paragraf dua kalimat sepuluh
(B) Membendung pada paragraf empat kalimat tiga
(C) Karirnya pada paragraf tiga kalimat sembilan
(D) Memperoleh pada paragraf dua kalimat dua
(E) Mengenyam pada paragraf satu kalimat tiga
10. Kalimat Yang hendak disingkirkannya adalah pengarang kelompok Lekra pada paruh kedua dasawarsa 1960-an; kelompok Lekra itu hujat Chairil Anwar sebagai penyebar sikap individualis dan wawasan humanisme universal yang menganggap menghambat revolusi dari visi kaum komunis pada paragraf tiga kalimat terakhir akan memiliki kesejajaran bentuk apabila diubah menjadi….
(A) Pengarang kelompok Lekra pada paruh kedua dasawarsa 1960-an berusaha menyingkirkan kelompok Lekra dengan mencap Chairil Anwar sebagai penyebar sikap individualis dan wawasan humanisme universal dengan menghambat revolusi dari visi kaum komunis
(B) Pengarang kelompok Lekra pada dasawarsa 1960-an, berusaha menyingkirkan kelompok Lekra dengan menuduh Chairil Anwar sebagai penyebar sikap individualisme dan wawasan humanisme universal dan penghambat revolusi dari visi kaum komunis
(C) Pengarang kelompok Lekra pada paruh kedua dasawarsa 1960-an, berusaha menyingkirkan kelompok Lekra dengan menuding Chairil Anwar sebagai penyebar sikap individualisme dan wawasan humanis universal dan menghambat revolusi dari visi kaum komunis
(D) Yang hendak disingkirkannya adalah pengarang kelompok Lekra pada dasawarsa 1960-an dan kelompok Lekra itu dihujat Chairil Anwar sebagai penyebar sikap individualis dan wawasan humanisme universal dan penghambat revolusi dari visi kaum komunis
(E) Pada paruh kedua dasawarsa 1960-an, pengarang kelompok Lekra berusaha menyingkirkan kelompok Lekra dengan menuding Chairil Anwar sebagai penyebar sikap individualis dan wawasan humanis universal dan penghambat revolusi dari visi kaum komunis
Kunci Jawaban Soal PBM UTBK

- D. 1. Kata Otodidak tidak tepat dan penggunaan kata yang benar adalah autodidak.
- A. Menghilangkan kata sendiri dan tanda koma (,) dan mengganti frasa dikorek sedalam-dalamnya menjadi frasa diidentifikasi secara holistik agar kalimat menjadi efektif. Chairil Anwar sudah menyatakan sendiri dan dikorek sedalam-dalamnya harus diganti dengan kata atau frasa denotatif secara ilmiah.
- C. Ihwal tindak plagiarisme yang dilakukan oleh Chairil pertama kali dikemukakan oleh Kumayas dan dijadikan…” Ihwal dan tindak harus dihilangkan karena pemborosan kata dan makna yang menumpuk. Tindak sudah menyatakan proses plagiarisme
- B. Ia terutama mempertahankan beberapa cita-cita mulia tentang bahasa Indonesia dalam bentuk hubungan yang paling terdalam, yaitu puisi dapat diubah menjadi Terutama, ia mempertahankan cita-cita mulia tentang bahasa Indonesia dalam bentuk hubungan terdalam pada puisi. Pola penempatan kalimat dan hilangkan pemborosan kata seperti yang sudah ditebalkan.
- Memeroleh Pembentukan afiks yang salah terletak pada paragraf kedua kalimat kedua, yakni (memeroleh) harusnya memperoleh
- B. Peranan Chairil Anwar (S) adalah (P) sebagai pelopor Angkatan ’45 (O)
- C. 1. Setiap kali membacanya, pikiran kita akan mengembara jauh sehingga menemukan sesuatu yang baru atau sesuatu tidak terlihat dengan mata yang lain dari perspektif berbeda. Hal ini memiliki pemaknaan serupa dengan A. Teeuw bahwa dalam karya Chairil Anwar terdapat keanekaragaman—suatu ciri yang khusus bagi suatu kepribadian dalam pembentukan—untuk menempuh kehidupan yang penuh gairah. Frasa yang dicetak tebal memiliki korelasi dengan kalimat selanjutnya dalam pembukaan paragraf baru.
- D. 2. 14:30 seharusnya 14.30 sesuai KBBI dan PUEBI.
- C. Karirnya pada paragraf tiga kalimat sembilan. Seharusnya kariernya.
- E. 1. Pada paruh kedua dasawarsa 1960-an, pengarang kelompok Lekra berusaha menyingkirkan kelompok Lekra dengan menuding Chairil Anwar sebagai penyebar sikap individualis dan wawasan humanis universal dan penghambat revolusi dari visi kaum komunis. Kata yang dicetak tebal harus disejajarkan afiksnya agar memiliki sistem pemaknaan komprehensif.
baca juga: les cpns jakarta
Sepuluh contoh soal di atas tentu bisa menjadi langkah awal untuk memahami pola Pemahaman Bacaan dan Menulis (PBM) UTBK SNBT. Namun, untuk benar-benar siap menghadapi persaingan yang sesungguhnya, kamu membutuhkan latihan yang lebih mendalam, pembahasan yang terstruktur, serta simulasi soal yang terus diperbarui sesuai standar terbaru. Di Latis Supercamp Alumni UI, kamu tidak hanya mendapatkan bank soal lengkap dan strategi khusus menaklukkan PBM, tetapi juga pendampingan intensif bersama tutor berpengalaman yang siap membimbing hingga kamu benar-benar percaya diri.
Jangan berhenti hanya di 10 soal ini. Tingkatkan kemampuanmu dengan program persiapan UTBK SNBT yang lebih komprehensif dan terarah bersama Latis Supercamp Alumni UI.
Hubungi kami sekarang di (021) 77844897 atau chat via WhatsApp di 0896-2852-2526. Pantau terus program-program terbaik kami melalui website resmi www.supercampalumniui.com serta follow Instagram Bimbel UTBK SNBT SIMAK UI – Latis Education untuk update informasi dan tips belajar terbaru.
Saatnya persiapanmu naik level dan semakin dekat dengan kampus impian!






